Kenangan Tentang Guru (2)

Kisah Kedua

Ada lagi kisah kenangan tentang guru yang tidak mudah saya lupakan. Kisah ini berlangsung saat saya masih kelas satu SMA. Sekolah saya termasuk sekolah Menengah Negeri favorit di kota kami, Jombang.

Sebutlah Bu Luthfiah (bukan nama sebenarnya), mengajar pelajaran Bahasa Inggris, menjadi wali kelas saya di kelas I-6. Kelas yang paling buncit, paling belakang dari I-1, I-2, sampai I-6. Desas desus, pembagian tersebut berdasarkan pada nilai danem yang kami miliki saat mendaftar di SMA. Nilai tertinggi akan ditempatkan di kelas I-1, begitu seterusnya sampai nilai terendah akan menempati kelas I-6.

Kata teman-teman bukan hanya lokasi kelasnya yang ditempatkan paling ujung atau paling belakang, namun kualitas guru-guru yang mengajar pun dibedakan. Guru-guru yang berkulitas bagus dan mumpuni dalam mengajar ditugaskan untuk mengisi jam pelajaran di kelas I-1, sedangkan guru yang biasa-biasa saja dikelas I-6. Entah perkataan teman-teman itu benar atau tidak, namun pada kenyataannya, saya merasakan kebenarannya, walaupun tidak bisa membuktikannya.

Wali kelas kami, Bu Luthfiah, sudah berusia kepala tiga, namun belum juga menikah. Kondisi itu memberikan kami alasan atas sikapnya yang seringkali emosional di kelas dan pada pelajarannya. Terkenal, keras, pelit nilai, tegas dan sering marah.

Kisahnya bermula sehari sebelum pembagian raport semester II. Kami semua dikumpulkan di kelas, di ceramahi, di nasehati, dimarahai karena nilai kami menurun dari pada semester pertama. Kami tidak memiliki prestasi di banding kelas satu yang lainnya, dan stempel paling bodoh pun katanya memang layak kami sandang. Karena menurut beliau kami sangatlah payah.
Tiba-tiba suaranya makin meninggi dan telunjuknya langsung menunjuk ke arah saya,

“Paling fatal lagi, bagaimana bisa murid dari peringkat pertama langsung jatuh ke peringkat lima?”
Saya menunduk, saya tahu Bu Luthfiah menatap saya tajam, dan teman-teman ada yang berbisik-bisik tapi tak berani mengekuarkan suara yang keras.
“Apa saja yang kau lakukan? Kau tidak belajar? Puas dengan rangkisng satu mu semester lalu” ujar Bu Luthfi berapi-api.

Saya hanya diam, toh tidak ada menanggapi.
Saya hanya bisa diam, dan sedih. Ya tentu saja, saya juga terpukul atas kenyataan anjloknya nilai saya. Dan sangat parahBagaimana dengan Ayah? Apakah Ayah dan Ibu saya akan marah-marah. Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati, dan membuat saya tidak bisa tidur.
Bu luthfiah membubarkan kelas, setelah melampiaskan kemarahannya.

Andaisaja Ibu mau bertanya pelan-pelan

Andai Ibu mau sedikit pengertian

Dan Andai ibu tidak membentak di depan teman-teman

Saya akan menjawab semua pertanyaan ibu. Saya punya alasan kenapa nilai saya bisa merosot tajam. Saya akan bilang, bahwa kelemahan saya adalah kurang tertarik menghadapi guru yang cara mengajarnya tidak menyenangkan. Memang ibu tidak akan bisa mengubah keputusan sekolah dalam menempatkan posisi jam mengajar guru, tapi paling tidak ibu tahu kenapa saya bisa seperti itu.

Bukannya saya tidak berusaha mengejar ketertinggalan materi. Saya mengikuti les privat tiap pelajaran yang saya anggap tidak mampu ke sana kemari. Tiap sore sampai malam menjelang. Ketika ada soal, jawaban saya benar, tapi jika rumus yang saya gunakan berbeda dengan rumus yang diajarkan bapak/ibu guru di kelas, maka dianggap salah. Jadi, walaupun benar, tetap disalahkan, sehingga nilai saya pun jatuh.

Tapi kata-kata itu tersendat di tenggorokan, tak mampu keluar, karena ibu seakan tak perduli apapun alasan yang saya sampaikan.

Beruntungnya, Ayah tidak marah mendapati peringkat saya yang anjlok. Beliau tetap tersenyum, memberi hadiah, mengajak makan di restoran dan tetap bersikap biasa saja. Kepadanyalah segala alasan tersebut saya sampaikan, dan ayah mengerti, hanya berpesan untuk ditingkatkan lagi. Dan saya berjanji akan mengkatkan prestasi.

Kenangan ini memberikan saya pelajaran, bahwa bagaimanapun kondisi anak, orangtua lah yang paling mengerti dan paling memahami serta menerima kita apa adanya.

Dan Menjadi guru haruslah penuh pengertuan dan belas kasi seeta mampu memanage kemarahan
Wallahu a’lam


Tinggalkan komentar